welcome

CHOI MIN HO -THE LAST SOLDIER-

Di sebuah kota di Korea Utara, di malam semua orang sudah tertidur sayup-sayup terdengar suara seorang wanita sedang mempertaruhkan nyawanya melahirkan anak yang telah dikandungnya 9 bulan dalam sebuah rumah yang mewah
“aaaaarrrrgggghhhhhh………sakiiiiiiiit pak, sakiiiiit…,”
“ayo nyonya terus dorong , bayinya sebentar lagi akan keluar. Nyonya harus bertahan!”
“iya sayang kau harus bertahan demi anak kita,”
“aaaaaaaaaaaaaaarrrrrrggggggghhhhhhhhhh……….,”teriaknya sekuat tenaga.
“hoaaaa…hoaaaa…hoaaaaaaaaaaa……” tangisan bayi itu pecah. Nyaring dan keras. Memecahkan ketegangan yang tampak jelas di tempat itu menjada kelegaan. Tampak senyum bahagia tersungging di wajah ke dua orang yang pertama melihat bayi itu telah lahir selamat.
“Sayang, bayi kita sudah lahir dengan selamat. Bayi kita laki-laki. Dia bayi yang tampan!” kata laki-laki itu senang dengan kelahiran anak pertamanya dan dia laki-laki.
“iya, sayang syukurlah,” masih lemas si ibu menjawab, ia masih belum mampu berfikir jernih setelah lelah melahirkan. Dia hanya mampu bersyukur dalam hatinya. Namun bidan yang telah membantu persalinannya menyadari ada sesuatu yang ganjil dalam tubuh bayi mungil tersebut ketika ia sedang memandikan si bayi. Dia menemukan keanehan pada kelaminnya. Diapun keheranan dengan semua ini. Baru kali ini dia menemukan keganjilan seperti ini. Dengan ragu ia ingin member i tahukan semua ini kepada si ayah sehabis memakaikan baju untuknya.
Berjalan ragu. Ia pun mendekatkan diri pada si ayah…
“Ma…maa..maaf tuan mengganggu,” ucapnya takut
“iya bu..ada apa? Kenapa anda ketakutan seperti itu?”
“ba…bayi anda tuan , bayi anda ca…cacat,”
“APA?????!!,”
“I..Iya tuan anak tuan punya dua kelamin,”
“APA???Punya dua kelamin? Apa maksudnya itu? Kenapa bayiku bisa seperti itu??, Tanyanya histeris dan shok mendengar semuanya.
“ma…maaf tuan saya juga tidak tahu,”jawab bidan tersebut jujur. Mendengar semua ini sang ibu seketika terbangun dari tidur pendeknya. Dia heran melihat mereka hanya terdiam dan bertanya apa yang telah terjadi namun semuanya hanya diam , belum siap memberitahu yang sejujurnya.










Dalam sehari berita tentang kelahiran anak inipun sudah tersebar. Semua merasa bahagia dengan kelahiran bayi laki-laki tersebut namun mereka juga bersedih dengan keadaan si bayi yang belum diberi nama itu. Desas-desus muncul kalau si bayi yang cacat itu adalah kutukan dan pembawa sial bagi kota mereka yang akan membuat hancur nama kota mereka yang terkenal dengan keindahan dan kemajuaanya yang pesat kerena pemerintahan yang kuat saat ini di banding dengan kota lain di Korea Utara.
Desas-desus ini sampai ke telinga si ayah bayi tersebut yang merupakan seorang pemimpin pemerintahan kota tersebut. Dia geram mendengar semua ini. ‘Itu semua karena bayi itu!’ runtuknya dalam hati. Ia pun tak ingin nama baiknya tercoreng karena bayi cacat itu! Dan akhirnya……….
“KAU HARUS MEMBUANG BAYI CACAT ITU!!!”
“jangan pak, ku mohon. Biarkan bayi kita tetap disini,” sambil menangis , dia tetap mebekap erat dalam pelukannya.
“KAU HARUS MEMBUANGNYA!!DIA BUKAN ANAKKU! KAU MELAHIRKAN ANAK YANG ORANG LAIN! ANAKKU TIDAK MUNGKIN SEPERTI ITU! DIA BUKAN ANAKKUUUUU!!!”
“hoaaaaaaaaaaaaaaaa…..,” tangis si bayi pecah
“tidak, tidak mungin aku membuangnya! Dia berharga bagiku,” si ibu terus memohon sedih kepada suaminya namun ia tetap berteguh untuk supaya dia membuangnya.
“Kalau kau tetap bersikeras untuk tetap merawat anak cacat itu kau harus pergi dari rumah ini! Jangan lagi kau tinggal disini, bawa anak itu jauh dariku!” ancamnya supaya istrinya mau melakukannya. Namun sebenarnya ia tidak benar-benar ingin istrinya pergi. Dia begitu mencintai istrinya. Ia hanya tidak bisa menerima keadaan anaknya yang cacat yang akan membuat namanya yang berpengaruh menjadi tidak berpengaruh lagi karena keberadaannya.
“baiklah kalau itu yang klau inginkan! Aku akan pergi sejauh mungkin jika itu yang kau inginkan suamiku. Aku tidak menyangka ternyata lebih memilih kehormatanmu dari pada anak dan istrimu! Ingatlah suamiku anakmu nanti yang akan datang kembali membawa kehancuran bagimu!”
Ia kaget mendengar itu, tak menyangka jika istrinya lebih memilih pergi daripada membuang bayi cacat itu. Tapi ia pun tetap dalam keangkuhannya untuk tetap mempertahan kehormatannya meskipun dalam hatinya ia merasa miris.
Segera si ibu pun pergi dengan perlengkapan seadanya. Dengan masih berlinangan air mata ia berjalan di tengah keramaian kota. Ia bingung ingin pergi kemana. Lalu ketika ia melintasi pelabuhan laut ia pun akhirnya tahu kemana ia harus pergi dan memulai hidupnya yang baru bersama dengan anaknya itu…..








KOREA SELATAN



10 TAHUN KEMUDIAN…..
“HEY KAU! BAYAR HUTANGMU! ATAU KAU,”laki-laki itu menghentikan perkataannya kemudian,
PLAAK. Satu tamparan mendarat di pipi Shin Min Ah cukup mampu membuatnya jatuh terjerembab ke tanah.
“ibuuuuu…” teriak Min Ho histeris melihat ibunya diperlakukan seperti itu dan membangunkan Min Ah. “kau apakan ibuku?jangan sakiti dia lagi!!”
“aaah… DIAM KAU MAHO! KAU HANYA BANCI MANA MAMPU MELAWANKU.PERGI SANA!” katanya sambil mendorong min ho yang seketika jatuh.
“min ho…”pekik min ah “tolong jangan sakiti dia. Aku akan segera membayar utangku aku janji tuan,” pinta min ah
“hmm… kuberi kau satu kesempatan lagi dan yang terakhir kali. Ingat min ah ini TERAKHIR KALI. Jika tidak kau tahu akibatnya. Ayo kita pergi.” Bruuum …
“ibuuu…kau tidak apa-apa?,” “tidak sayang, ayo kau akan terlambat jika tidak berangkat ke sekolah sekarang,” “tidak ibu aku mereka ke sekolah,aku akan sering di ejek aku maho karena keadaanku ini bu,”kata min ho yang hampir menangis. “tidak sayang mereka salah kau bukan maho, kau laki-laki sejati ibu. Mereka tidak tahu apa-apa. Bagi ibu kau laki-laki sejati, itu sudah cukup bagimu kan?,” “hm… iya bu, baiklah bu aku akan pergi ke sekolah . Dah ibu…”, min ho berangkatan dengan senyum mengembang seolah telah melupakan kejadian yang baru saja terjadi namun menjadi kesedihan bagi min ah melihat kenyataan bahwa min ho memang tidak seperti anak yang lainnya. ‘Oh, Tuhan betapa berat beban yang ditanggung anakku’,gumamnya dalam hati. Miris





DI SEKOLAH JIONHWA




“HEI MAHO! Untuk apa kau masih disini?kau akan memalukan sekolah tahu!”,ejek anak bernama Noh Min. “iya pergi saja sana sekolah ini sudah buruk reputasinya di tambah kau yang punya dua kelamin akan makin membuat buruk reputasi sekolah!” kata anak yang satunya lagi, Jun Na
“huuuuhhuuuhhh…dasar tidak tahu diri,” sorak-sorai anak-anak yang lain berbarengan. Begitulah Min Ho harus melewati hari-harinya. Min Ho tidak memiliki teman disana makanya dia hanya diam saja diperlakukan seperti itu. Begitupun di pagi hari ini, kedatangannya sudah di sambut dengan ejekan dan hinaan namun sudah biasa baginya untuk mendengar kata-kata itu. Min ho tetap berjalan diam di tengah kerumunan anak yang mengejeknya sampai ada seorang anak yang tiba-tiba…
PLUK, telur busuk dilempar tetap di kepala min ho yang kini membuatnya seketika berlumuran kuning telur yang menyengat.
“hahahahahahahahahhaha…..,”tawa seluruh anak yang menyaksikan peristiwa itu. “RASAKAN ITU MAHO, HAHAHAHAHA.” Mati-matian Min ho menahan amarahnya untuk tidak terpancing dengan ejekan mereka. Min ho berjalan kembali tanpa perduli sampai…PLUK PLUK PLUK kembali min ho mendapat lemparan telur busuk dan kembali tawa menggelegar tambah keras. Sudah cukup rasanya min ho menahan emosinya sampainya akhirnya min ho menghampiri Noh Min yang memulai ini semua dan…BUUUK pukulan keras mendarat mulus dipipi Noh Min langsung membuat nya jatuh seketika.
“dasar kau MAHO!mati kau di tangan ku!”, serunya sambil mengusap hidungnya yang berdarah “aaaaaaaaaaaaaaaaaaa….” BUUUK. Perkelahian pun jadi tidak bisa terbendung lagi. Tidak ada satupun yang melerai, mereka malah asyik bersorak-sorai. Semua menyerukan Noh Min untuk mengalahkan Min ho. Namun ditengah hiruk-pikuk yang tengah terjadi, ada seseorang yang melihat dari jauh yang sebenarnya ingin melerai mereka tapi terlalu takut untuk melakukannya. Sampai seorang guru datang dan
“BERHENTI!!!”
TBC…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar